Pada tahun 1983, Dr. Biantoro Wanandi kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan
tanggung jawabnya sebagai Kepala Divisi “Drug Action Progam” (DAP) untuk WHO di
Jenewa, Swiss. Ia memiliki sebuah visi untuk mendirikan perusahaan yang terkemuka
di bidang pelayanan distribusi farmasi dan sebuah misi untuk berpartisipasi dan
berkontribusi dalam membangun ketersediaan obat-obatan di seluruh wilayah Negara
Indonesia. Visi tersebut kemudian melahirkan PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL)
pada tahun 1985, sebagai sebuah perusahaan yang dibangun dari nol dengan kantor
dan gudang pertama di Jalan Pulolentut, Kawasan Industri Pulogadung Jakarta. Pada
awal operasinya, APL mendistribusikan produk-produk dari Combiphar dan Sandoz Biochemie
di Jakarta. Kemudian APL mendirikan cabang-cabang baru seperti di Surabaya, Bandung,
Semarang dan Medan untuk memperluas operasinya. Pada tahun 1987, APL mendapatkan
kesempatan untuk mendistribusikan produk dari Glaxo dan memperluas infrastrukturnya
dengan membuka lima cabang baru.
Pada tahun 1990, dua Prinsipal baru bergabung dengan APL, yaitu New Interbat dan
Schering Plough, mereka mempercayakan bisnis mereka kepada APL sehingga penjualan
tahunan APL berhasil mencapai angka di atas 100 milyar rupiah. Untuk mengembangkan
portofolio-nya, pada tahun 1991 APL mendirikan Divisi Medical Devices and Diagnostics
yang bertanggung jawab untuk mendistribusikan produk alat kesehatan dan diagnosa.
Kemudian pada tahun 1994, APL mendirikan Divisi OTC (Over the Counter) yang berfokus
pada penjualan produk-produk OTC.
Pada tahun 1995, APL telah membuka 18 cabang di beberapa kota besar di Indonesia
dan telah memompa penjualan ke angka 300 milyar rupiah. APL kemudian meningkatkan
investasinya untuk memperlengkapi infrastruktur cabang-cabangnya dengan sistem pergudangan
modern di tahun 1996. APL kemudian meng-akuisisi PT Tigaka Distrindo Perkasa (TDP)
di tahun 1997. TDP adalah perusahaan distribusi produk konsumsi. Untuk memperbaiki
tingkat pelayanan dan efisiensi pengirimannya, APL mendirikan Pusat Distribusi di
Gresik dan Medan untuk menangani distribusi ke bagian Barat dan Timur Indonesia.
Pada tahun 1998, penjualan telah mencapai 600 milyar rupiah dengan didukung oleh
24 cabang dan 20 stasiun penjualan di seluruh Indonesia. Pada waktu yang sama jumlah
Prinsipal juga telah bertumbuh menjadi 30 perusahaan baik local maupun multinasional.
Selama krisis ekonomi, APL melakukan investasi besar pada sistem IT-nya yaitu pada
Computer Associates, sebuah perusahaan piranti lunak terkemuka di dunia. Pada tahun
ini juga sebuah logo baru diresmikan dengan semangat baru untuk menjadi distributor
terkemuka di Indonesia.
Pada tahun 1999, melalui berbagai inovasi penjualan APL melesat menjadi lebih dari
1 trilyun rupiah. Penggabungan OTC dan Consumer menjadi Divisi Consumer Health Product
(CHPD) telah memberikan suatu pola baru dalam perjalanan APL sebagai distributor
nasional, yang juga mencerminkan semangat untuk selalu bersikap responsif terhadap
dinamika pasar. Pada tahun 2000, dengan lebih dari 1600 karyawan di seluruh Indonesia,
APL telah berhasil memposisikan dirinya sebagai salah satu perusahaan distribusi
terkemuka di mata para pelanggannya, seperti yang terlihat dari peningkatan nilai
penjualan yang bertumbuh di atas rata-rata pasar farmasi. Di tahun 2001, dengan
implementasi yang konsisten dari sistem manajemen mutunya, APL berhasil memperoleh
sertifikasi ISO 9001:2000.
Pada tahun 2002, APL mengambil inisiatif untuk mendekatkan diri dengan para pelanggannya,
dengan memperbaiki tingkat pelayanan dan profesionalitasnya untuk merespon kebutuhan
pelanggan. Selama tahun ini, APL telah melayani semua jenis outlet pelanggan, seperti
apotek, rumah sakit, laboratorium, toko obat, grosir, supermarket, mini market,
toko kosmetik sampai dengan toko kelontong dan banyak jenis pelanggan lainnya. Pada
awal millennium ke-3, APL meluncurkan sebuah visi dan misi baru dan berkomitmen
untuk menjaga keberhasilan dan nama baik APL serta memperbaiki tingkat pelayanannya
dalam menjaga kepuasan pelanggan.
Pada tahun 2003, APL berhasil menjadi distributor farmasi pertama yang mengimplementasikan
sistem SAP yang live pada bulan Oktober 2002 sebagai salah satu sistem pendukung
aktivitas operasional baik di Kantor Pusat dan on-line dengan seluruh cabang APL
di Indonesia. Pada tahun yang sama penjualan APL telah bertumbuh menjadi lebih dari
2 trilyun rupiah.
Pada tahun 2005, APL melakukan kemitraan dengan Interpharma Asia Pacific dan melakukan
integrasi dengan PT Wigo Distribusi Farmasi – dimiliki oleh Interpharma – yang berhasil
diselesaikan pada tahun 2006 sebagai respon terhadap situasi pasar dan telah menciptakan
landasan yang kuat untuk menumbuhkan bisnis lebih lanjut di masa depan. Tahun ini
juga ditandai dengan bergabungnya Sanofi-Aventis yang secara efektif bekerja bersama
APL di tahun 2007.