APL Luncurkan Kampanye “Berani Bicara Berat”, Dorong Pemahaman terkait Obesitas sebagai Penyakit Kronis
Kembali ke Berita 14 Agustus 2026

APL Luncurkan Kampanye “Berani Bicara Berat”, Dorong Pemahaman terkait Obesitas sebagai Penyakit Kronis

Bagikan

JAKARTA, INDONESIA, 14 Agustus 2026 – PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), perusahaan Zuellig Pharma, hari ini meluncurkan “Berani Bicara Berat”, sebuah kampanye edukasi kesehatan yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks serta mendorong individu untuk memperoleh penanganan medis yang tepat.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, obesitas dialami oleh 23,4% orang dewasa di Indonesia, atau hampir 1 dari 4 orang dewasa. Prevalensi obesitas pada perempuan mencapai 31,2%, hampir dua kali lipat dibandingkan 15,7% pada laki-laki.[1] Kondisi ini menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan sekaligus menimbulkan beban sosial dan ekonomi.

Obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor biologis dan genetik, perilaku kesehatan, kondisi medis yang mendasari, hingga faktor lingkungan.[2] Obesitas juga berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, stroke, dan beberapa jenis kanker.[3] Bagi sebagian besar orang yang hidup dengan obesitas, perubahan gaya hidup saja seringkali belum cukup untuk mencapai penurunan berat badan yang memadai dan berkelanjutan guna meningkatkan kesehatan dalam jangka panjang.[4]

“Obesitas bukan sekadar persoalan berat badan atau gaya hidup. Obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks dan terus berkembang di Indonesia,” ujar Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI). “Untuk menangani obesitas, kita perlu memperkuat edukasi mengenai penanganan obesitas dan mendorong perubahan perilaku masyarakat, sehingga orang yang hidup dengan obesitas dapat memperoleh penanganan yang tepat.”

Di Indonesia, obesitas masih kerap dipandang sebagai persoalan tanggung jawab pribadi dan dikaitkan dengan kurangnya disiplin diri atau pilihan gaya hidup yang kurang baik. Persepsi tersebut dapat memperkuat stigma sosial dan membuat individu enggan mencari dukungan klinis maupun penanganan medis yang tepat.[5] Stigma terkait berat badan juga dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan psikologis dan perilaku kesehatan seseorang.[6]

Kampanye “Berani Bicara Berat” hadir untuk meluruskan berbagai persepsi tersebut dengan menempatkan obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks yang memerlukan penanganan medis berkelanjutan serta dukungan yang tepat dari tenaga kesehatan.

“Didorong oleh misi APL untuk membuat layanan kesehatan lebih mudah diakses, kami percaya bahwa sudah saatnya kita membangun kembali percakapan mengenai berat badan dan mengubah secara mendasar cara kita memandang obesitas. Tidak seorang pun seharusnya menghadapi tantangan obesitas seorang diri. Melalui kampanye Berani Bicara Berat, kami berupaya memberdayakan masyarakat melalui edukasi berbasis sains, sekaligus mendorong mereka untuk mengambil langkah selanjutnya dengan mencari dukungan dan penanganan yang dibutuhkan melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan,” ujar Ay Lie Widjaja, Chief Operating Officer, Commercialization, PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL). 

Sebagai bagian dari peluncuran kampanye, diselenggarakan diskusi panel bertajuk “Berani Bicara Berat, Awali dengan Langkah yang Tepat”, yang menghadirkan sejumlah ahli, termasuk Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI); Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI); serta dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI). Diskusi ini menghadirkan perspektif dari bidang medis, endokrinologi, gizi klinis, dan kesehatan masyarakat, dengan menekankan pentingnya penanganan obesitas yang tepat dan berkelanjutan.

“Tubuh memiliki mekanisme biologis yang secara alami mempertahankan berat badan, sehingga pencapaian penurunan berat badan yang signifikan dan berkelanjutan melalui perubahan gaya hidup saja dapat menjadi tantangan. Oleh karena itu, penanganan obesitas memerlukan pendekatan jangka panjang, dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan menurunkan risiko komplikasi, bukan semata-mata berfokus pada pencapaian angka tertentu pada timbangan,” ujar Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI).

Kompleksitas obesitas juga menunjukkan bahwa tidak terdapat pendekatan yang bersifat one-size-fits-all dalam penanganannya. Kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, perilaku, dan tujuan kesehatan setiap individu dapat berbeda, sehingga diperlukan pendekatan yang dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.

“Asesmen gizi klinis membantu menentukan strategi nutrisi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu. Strategi tersebut kemudian dapat dilengkapi dengan perubahan perilaku, dukungan psikologis, dan terapi medis, sehingga membentuk pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mendukung kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik,” ujar dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI).

Pilihan penanganan obesitas terus berkembang, termasuk terapi berbasis incretin yang bekerja pada reseptor tunggal maupun reseptor ganda. Penggunaannya perlu ditentukan melalui konsultasi dengan dan di bawah pengawasan tenaga kesehatan.

APL bekerja sama secara erat dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung edukasi bagi lebih dari 21.000 tenaga kesehatan di seluruh Indonesia. Sebagai bagian dari kampanye peningkatan kesadaran mengenai obesitas, APL juga meluncurkan microsite edukasi berbasis sains yang dirancang untuk membantu masyarakat memahami obesitas dengan lebih baik, meluruskan berbagai miskonsepsi, serta memahami pentingnya penanganan yang tepat.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kampanye “Berani Bicara Berat”, kunjungi www.obesityisadisease-id.com. 

-----------------------------

[1] Ministry of Health of the Republic of Indonesia, National Report of the Indonesia Health Survey (SKI) 2023, Health Policy Agency (BKPK). Available at: badankebijakan.kemkes.go.id 

[2] Centers for Disease Control and Prevention (CDC). "Risk Factors for Obesity." Available at: https://www.cdc.gov/obesity/risk-factors/risk-factors.html. Accessed July 2026. 

[3] Centers for Disease Control and Prevention (CDC). "Consequences of Obesity." Available at: https://www.cdc.gov/obesity/php/about/consequences.html. Accessed July 2026.

[4] Hall KD, Kahan S. Maintenance of Lost Weight, and Long-Term Management of Obesity. Med Clin North Am. 2018;102(1):183-197. doi:10.1016/j.mcna.2017.08.012

[5] Al Fajri, M.S., Rahim, H.A., & Rajandran, K. “A Corpus-Assisted Discourse Study on the Construction of ‘Obesity’ in Indonesian News Media.” Available at: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/a-corpus-assisted-discourse-study-on-the-construction-of-obesity-. Accessed July 2026. 

[6] Nadhiroh SR, Nurmala I, Pramukti I, et al. Weight Stigma in Indonesian Young Adults: Validating the Indonesian Versions of the Weight Self-Stigma Questionnaire and Perceived Weight Stigma Scale. Asian Journal of Social Health and Behavior. 2022;5(4):169–179. Available at: https://doi.org/10.4103/shb.shb_189_22 

Bagikan artikel ini

Lihat Berita Lainnya

APL Memperluas Portofolio Consumer Healthcare dengan Ego Pharmaceuticals

16 Oktober 2026

APL Memperluas Portofolio Consumer Healthcare dengan Ego Pharmaceuticals

View details
APL Partners Day 2026 Memperkuat Kolaborasi Strategis Guna Memperluas Akses Layanan Kesehatan di Seluruh Indonesia

23 Juli 2026

APL Partners Day 2026 Memperkuat Kolaborasi Strategis Guna Memperluas Akses Layanan Kesehatan di Seluruh Indonesia

View details
Kunjungan BPOM ke National Distribution Center APL Guna Memperkuat Kolaborasi dalam Kualitas Layanan Kesehatan dan Keberlanjutan

07 Juli 2026

Kunjungan BPOM ke National Distribution Center APL Guna Memperkuat Kolaborasi dalam Kualitas Layanan Kesehatan dan Keberlanjutan

View details